Perpendek Umur

0812.80.989.08  , 085.100.766.442 0812.8098908

Home
Up

 

 

BFC Group

 

Lobster Air Tawar

 

Landak Mini

 

Kelinci Mini

 

Wisata Edukasi

 

Polusi Udara Perpendek Umur Warga London 10 Tahun

(bayangkan Jakarta yang polusi udaranya no 3 tertinggi didunia bisa berkurang berapa tahun umur pengendara motor ?)

London, 8 Juni 2004 14:38
Sebuah makalah hasil penelitian yang dimuat harian Evening Standard, Inggris mengungkapkan, polusi udara di kota London dapat memperpendek umur warganya hingga 10 tahun.

"Partikel-partikel debu yang kecil yang merupakan hasil sisa pembakaran mobil dan ozon yang menjadi kambing hitam penyebab gangguan kesehatan yang diderita ribuan orang di ibukota Inggris," demikian dikatakan oleh para peneliti dari perguruan tinggi King`s College.

"Dalam kasus ekstrim "masa hidup" seseorang dapat berkurang hingga 10 tahun ," kata Roy Colville ahli polusi di perguruan tinggi Imperial London yang ikut serta dalam penelitian."

"Data statistik telah menunjukkan meningkatnya jumlah warga yang meninggal akibat tingkat pencemaran udara yang tinggi," katanya .

Dengan melakukan pengamatan kualitas udara di 60 titik di seluruh bagian kota, para peneliti menemukan partikel debu yang halus namun sangat berbahaya dan mampu bertahan di udara selama 60 hari pada masa tahun lalu dan tingkat ozone telah melewati ambang batas pada pada tahun 2003.

Menurut para ahli lingkungan pencemaran udara London menyebabkan sekitar 1.600 kematian bayi prematur dan sekitar 1.500 pasien terpaksa menjalani rawat inap setiap tahunnya.

Colville juga mengatakan warga London selain itu juga menderita beberapa penyakit gangguan kesehatan akibat dari menghirup udara yang tercemar antara lain hidung gatal, demam dan asma," kata Gary Fuller ketua tim peneliti.

"Musim panas terakhir Inggris terserang gelombang panas yang semakin memperburuk keadaan lingkungan akibat polusi," kata Gary Fuller.

"Kita harus melakukan sesuatu apabila ingin dapat mencapai batas dibawah limit yang ditentukan EU yang diharapkan telah di realisasikan pada tahun 2005.

Hasil lengkap penelitian tersebut akan dipublikasikan pada akhir tahun ini.

Pemerintah Inggris telah melewati batas tingkat pencemaran akibat gelombang panas dan seorang ahli polusi mengatakan ambang batas pencemaran udara dapat terjadi secara fluktuatif dari tahun ke tahun. [Tma, Ant]  

Sumber : http://www.gatra.com


Bukti Kian Kuat, Polusi Udara Picu Serangan Jantung, Stroke

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Jangan lagi meremehkan polusi udara yang kian banyak mengandung partikel dan polutan berbahaya, karena kini semakin kuat bukti yang mengaitkan polusi udara dengan kematian akibat serangan jantung, stroke dan penyakit kardiovaskular.

American Heart Association (AHA) dalam pernyataan ilmiahnya yang diterbitkan Senin (10/5), menyebutkan dari berbagai macam jenis polusi udara itu, bukti yang terkuat pemicu serangan jantung adalah partikulat, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai PM2.5, karena partikel ini memiliki diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Ukurannya yang kecil itu membuat partikulat ini lebih mungkin menyusup bahkan ke dalam saluran pernapasan terkecil.

Sumber dari PM2.5 ini meliputi hasil pembakaran minyak fosil dari industri, lalu lintas dan pembangkit listrik.

"Zat partikulat ini tampaknya secara langsung meningkatkan risiko dengan cara memicu kejadian-kejadian pada individu yang rentan terhadap tingkat paparan partikulat hanya dalam hitungan jam atau hari, bahkan terhadap mereka yang sehat selama bertahun-tahun," kata ketua tim peneliti, Dr. Robert D. Brook.

"Juga ada bukti yang semakin menguat bahwa paparan terhadap PM2.5 dalam jangka waktu lebih lama, misalnya selama beberapa tahun, dapat memicu peningkatan risiko kesehatan lebih besar lagi. Dan zat partikulat ini harus dipahami sebagai faktor yang dapat dimodifikasi yang menyumbang terhadap tingkat morbiditas dan motalitas," imbuhnya dalam jurnal Circulation edisi 10 Mei. 

Sementara mereka yang memiliki risiko tertinggi akibat paparan PM2.5 ini termasuk kalangan lanjut usia, orang yang mengidap penyakit jantung (misalnya gagal jantung atau penyakit arteri koroner), dan mungkin mereka yang mengidap diabetes.

Untuk kelompok yang berisiko tinggi ini harus rajin mengontrol berbagai faktor risiko, seperti tekanan darah, kolesterol, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Selain itu, untuk mengurangi tingkat paparan PM2.5, sebaiknya mengurangi keberadaan di luar ruang, terutama saat jam sibuk lalu lintas.

Para ahli itu juga menemukan bukti kuat hubungan antara polusi udara dan penyakit jantung ischemic (penyempitan arteri koroner yang menghambat pasokan darah ke jantung). Polusi udara juga terkait dengan penyakit vaskular periferal, detak jantung tak teratur serta jantung berhenti berdetak. 
   
Meskipun tingkat paparan partikulat ini moderat, namun hubungan antara polusi udara dan gagal jantung serta stroke ischemic (stroke yang disebabkan oleh gangguan pada aliran darah ke otak) juga menguat. Sedangkan tingkat paparan rendah tapi konsisten, yaitu paparan terhadap polusi udara dalam jangka pendek juga berhubungan dengan kematian dini.

Sumber : http://www.go4healthylife.com


Kemacetan Perpendek Usia Manusia 
 

Jumat, 11 September 2009 
Pencemaran Udara/Kerugian Akibat Kemacetan Mencapai 28 Triliun Rupiah 
 

Kemacetan yang sangat memprihatinkan di Jakarta menyebabkan harapan hidup berkurang. 

Penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), pneumonia, asma, dan bronkitis menjadi penyakit yang bakal merenggut nyawa warga Jakarta lebih cepat akibat kemacetan.

JAKARTA , Polusi udara akibat kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta memperpendek harapan hidup masyarakat. 

Bila seseorang terpapar udara kotor terus menerus selama 24 jam dalam kurun waktu enam bulan (4.320 jam), usianya akan berkurang sembilan bulan. 

Demikian diungkapkan pengamat lingkungan dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Firdaus Ali, di Jakarta, Kamis (10/9). 

“Rata-rata orang di Jakarta berada di jalanan menuju dan pulang dari tempat kerja sekitar empat jam dalam sehari.

Dalam kurun waktu 1.080 hari (tiga tahun) di jalanan, orang tersebut akan berkurang umur sembilan bulan.”

Dalam setahun, sambungnya, warga Jakarta yang terkena penyakit karena polusi udara menghabiskan dana 4,9 juta rupiah per tahun untuk berobat hingga sembuh. 

Pada 2008, biaya berobat akibat polusi udara mencapai 5,8 triliun rupiah. Data itu merupakan perkiraan dari hasil penelitian dari Bank Dunia, Bappenas, dan Universitas Indonesia pada 2004.

Menurut Firdaus, data itu diambil dari penduduk Jakarta yang tingkat polusinya tinggi seperti di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat. 

Warga Jakarta di daerah ini terpapar udara kotor yang mengandung karbon dioksida, (CO2), timbal, nitrogen teroksida (N2O3), dan nitrogen pentoksida (N2O5). 

“Di sisi lain, ruang terbuka hijau (RTH) di daerah itu minim sehingga partikel tidak diserap pepohonan dan sedikit oksigen yang dihasilkan.” 

Namun demikian, jelasnya, untuk menangkal penyakit pernapasan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengonsumsi suplemen mengandung mineral dan vitamin. 

Tetapi hanya orang kaya yang bisa selalu mengonsumsi suplemen ini. 

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Faisal Yunus, mengatakan warga Jakarta yang akan banyak menderita penyakit akibat polusi udara (infeksi saluran pernapasan atas, pneumonia, asma, dan bronkitis) adalah warga Jakarta Pusat, sebagian Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur.

“Jakarta Pusat karena daerah ini paling ramai kendaraan dan tidak pernah berhenti kendaraan lewat situ dari arah mana saja,” tuturnya. 
Sedangkan Jakarta Timur, ia menunjuk Pulogadung karena banyak industri. 

Di Jakarta Barat, Faisal menunjuk Grogol yang rawan karena padat arus kendaraan. Di Jakarta Utara, Tanjung Priuk karena banyak kendaraan kontainer lewat dan daerahnya minim pepohonan.

Dosen Arsitektur Lanskap Universitas Trisakti Iwan Ismaun mengatakan pada 2015 emisi gas CO2 di Jakarta mencapai 38.322,46 ton per hari. 

Menurutnya, porsi polusi dari sektor transportasi 92 persen. Disusul sektor industri sebanyak lima persen, permukiman dua persen, dan sampah satu persen. 

“Untuk menyerap polusi itu diperlukan ruang terbuka hijau sebesar 32,04 persen dari total luas kota Jakarta, 65 ribu hektare. Luas RTH Jakarta saat ini hanya 6.480 hektare. 

Untuk menambah menjadi 32,04 persen dari total luas Jakarta sebesar 65.000 hektare, diperlukan 14.356 hektare,” jelasnya. 

Iwan mengatakan setiap pohon besar dengan luas hijau daun 150 m2 dapat menyerap CO2 sebanyak 2,3 kilogram dan menghasilkan O2 sebanyak 1,70 kg per jam. 

Saat ini, jumlah kendaraan roda empat yang melintas di jalan-jalan di Jakarta mencapai lima juta buah. 

Dengan data tingkat pertumbuhan transportasi dan emisi CO2 seperti sekarang ini, Jakarta membutuhkan luas RTH 20.836 hektar. 


28 Triliun Rupiah 

Di sisi lain, Firdaus mengungkapkan, kemacetan yang sangat memprihatinkan di Jakarta diperkirakan mengakibatkan kerugian sekitar 28 triliun rupiah per tahun. 

Total kerugian itu terbagi dalam beberapa sektor, antara lain kerugian akibat bahan bakar, kerugian waktu produktif warga, kerugian pemilik angkutan umum, dan kerugian kesehatan.

“Jumlah kerugian yang paling besar adalah sektor bahan bakar yang menghabiskan sampai 10,7 triliun rupiah per tahun. Kerugian bahan bakar dihitung dari banyaknya BBM yang terbuang karena kemacetan,” paparnya.

Selain kerugian akibat BBM, kerugian waktu produktif mencapai 9,7 triliun rupiah, kerugian kesehatan menyumbang 5,8 triliun rupiah, dan kerugian pemilik angkutan umum mencapai 1,9 triliun rupiah karena berkurangnya jumlah rit yang ditempuh angkutan umum. 
rud/M-3

Sumber : http://www.koran-jakarta.com

 

Home ] Up ]

Jl. Mesjid Baitis Salmah

Kp.Tegal Rotan Rt.04/07 No.123

Desa Sawah Baru, Ciputat

Tangerang Selatan

Banten 15413

(Depan Mall Bintaro XChange, BXC)

 

  • 0812.80.989.08 , 085.100.766.442 (Telp/SMS)

    0812.8098908

     
  • Email : lobsterairtawar001@yahoo.com

     

    Copyright © 2010 BFC Group